PLASTIK DAN KONSTRUKSI BUDAYA MINUM DALAM MASYARAKAT


Foto : tribunnews.com
Masih ingat dengan video tentang seekor penyu yang kesulitan bernafas karena hidungnya tersumbat sedotan plastik?. Perjuangan untuk mengeluarkan sedotan plastik sepanjang 15 cm yang membuat si penyu kesakitan dan berdarah yang dikisahkan dalam video tersebut menggambarkan bagaimana plastik mengancam kelangsungan hidup semua makhluk hidup.

Berbagai cara dilakukan untuk mengurangi sampah plastik, salah satunya adalah gerakan tanpa sedotan. Di Indonesia, gerakan tanpa sedotan awalnya dilakukan oleh sebuah restoran ayam goreng cepat saji pada tahun 2017 lalu dan diikuti oleh restoran cepat saji lainnya. Di media sosial seperti twitter dan Instagram,  tagar #nostrawmovement digunakan sebagai bentuk dukungan pada gerakan tanpa sedotan tersebut. Di Instagram saja, tercatat 2.259 unggahan yang menggunakan tagar #nostrawmovement. Ada yang mendukung namun tak sedikit pula yang masih meragukan keseriusan penggagas gerakan tanpa sedotan. Pendukung gerakan ini menganggap bahwa pengurangan penggunaan sedotan akan mampu mengurangi jumlah sampah plastik di muka bumi. Sementara, mereka yang meragukan selalu mempertanyakan mengapa pengurangan sampah plastik hanya dari pengurangan penggunaan sedotan?. Bagaimana dengan tempat saus sambal, sendok, tutup gelas dan atribut lain yang banyak digunakan di restoran cepat saji?. Mengapa sedotan ?. Karena sedotan yang bentuknya kecil sangat sulit didaur ulang dan kurang diminati oleh pengais rejeki dari sampah plastik (baca:pemulung). Nilai jualnya sangat kecil sementara usaha untuk mengumpulkannya membutuhkan waktu dan tenaga yang besar.

Bila anda suka mengunjungi kedai-kedai kopi modern, maka anda dapat dengan mudah memperoleh sedotan untuk minuman dingin anda, mulai dari yang berukuran standar sampai yang besar untuk minuman dingin yang didalamnya terdapat topping seperti jelly. Untuk minuman hangat, kedai-kedai kopi biasanya menyediakan sedotan yang bentuknya sangat kecil dan agak pipih yang memungkinkan penikmat minuman teh atau kopi minum tanpa kuatir lidahnya terbakar kepanasan. Sedotan pipih tersebut juga dapat dipergunakan untuk mengaduk gula dalam minuman sehingga bercampur dengan sempurna.

Entah sejak kapan kita terbiasa minum dengan sedotan. Kalau kita minum di rumah maka kita akan minum dari gelas langsung tapi  begitu kita ‘jajan’ di luar rumah seperti di warung pinggir jalan sampai kedai kopi modern, maka kita akan langsung ‘terbiasa’ minum dengan sedotan. Toh sebenarnya dari sisi ‘rasa’ tak ada yang berbeda ketika kita minum langsung dari gelas dengan minum menggunakan sedotan. Apakah kemudian rasa kopi atau the menjadi lebih nikmat ketika kita minum dengan sedotan? Tentu saja tidak.

Disinilah persepsi dan perilaku kita dikonstruksi. Budaya minum orang Indonesia yang tadinya minum teh atau kopi langsung dari gelas atau cangkir telah berubah. Orang lebih suka minum teh atau kopi menggunakan gelas besar dari plastik, menyeruput minuman dengan sedotan, sambil duduk di kedai-kedai modern. Seolah mengerjakan sebuah proyek besar atau tugas perkuliahan, masyarakat urban terutama rela merogoh kocek nyaris seratus ribu rupiah hanya untuk menikmati segelas kopi atau teh di kedai modern. Kenikmatan tersebut lalu diunggah ke media sosial seakan dunia harus tahu bahwa kita sekarang sedang minum kopi mahal. Minum atau makan bukan sekedar memenuhi kebutuhan lapar dan dahaga tapi lebih pada pengungkapan identitas status sosial. Minum di kedai modern adalah simbol kesuksesan.

Kapitalis telah sedemikian menguasai kehidupan kita. Lihatlah betapa banyaknya industri yang turut menikmati keuntungan dari kehadiran kedai-kedai modern. Kedai modern membutuhkan perlengkapan seperti piring, gelas, sendok, tisu yang semuanya menggunakan plastik yang tidak ramah lingkungan. Pekerja dimanjakan dengan perlengkapan sekali pakai karena mereka tak perlu repot-repot mencuci. Kegaduhan suara perabotan makan minum yang terbuat dari kaca, suara piring gelas terjatuh dan pecah yang menimbulkan polusi suara dan dianggap mengganggu kenyamanan pengunjung kedai modern tidak akan pernah ditemukan. Kita sebagai konsumen telah dikonstruksi sedemikian rupa untuk menyukai kedai yang tenang dan membiarkan kita duduk disana berjam-jam hanya dengan membeli segelas kopi. Kata-kata ‘cozy’ digunakan untuk membentuk persepsi ketenangan di benak konsumen.

Kapitalis secara sadar maupun tidak telah menjadi penyumbang terbesar bagi polusi dan kerusakan ekosistem. Apakah mereka tahu (atau mungkin mereka sudah tahu) bahwa plastik memerlukan 500-1.000 tahun untuk benar-benar terurai?. Hal kecil dapat mengurangi sampah plastik di muka bumi. Ayo kita awali dari diri kita sendiri dan tularkan pada orang lain. Bukankah sedikit lama-lama menjadi bukit?. (Camelia Ariestanty/www.cameliaaries.com)

PENTING :
Ini adalah tulisan asli penulis.Mencantumkan link dan identitas penulis diharuskan pada setiap aktivitas copy paste. Menulislah dengan santun dan kami akan menghargai Anda.

Penulis adalah pegawai BUMN
dan mahasiswa Prodi Magister Media dan Komunikasi Universitas Airlangga

Comments

Popular Posts